| Sebuah kapal berisi pengungsi Bangladesh dan Myanmar mendarat di Aceh, pada Minggu (10/05). Sebuah kapal lainnya bertemu TNI di Selat Malaka pada hari yang sama. |
(BBC Indonesia) Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan siap membantu para
pengungsi yang terdampar di perairan Indonesia, walaupun awal pekan ini
TNI meminta satu kapal migran kembali ke perairan internasional.
Dalam jumpa pers pada Rabu (13/05/2015), juru bicara Kementerian Luar
Negeri, Arrmanatha Nasir, mengatakan pemerintah mengikuti prinsip non-refoulement meski Indonesia bukan penandatangan Konvensi Internasional mengenai Status Pengungsi tahun 1951.
Prinsip non-refoulement
melarang penolakan dan pengiriman pengungsi atau pencari suaka ke
wilayah tempat kebebasan dan hidup mereka terancam karena alasan-alasan
tertentu seperti alasan ras, agama, atau kebangsaan.
"Intinya, apabila ada refugee
(pengungsi) yang masuk ke perairan Indonesia dan membutuhkan bantuan,
itu akan diberikan bantuan. Seperti yang terjadi pada 582 orang pada 10
Mei lalu. Apabila besok ada hal yang sama, itu yang akan kita lakukan,"
kata Arrmanatha
| Pemerintah mengikuti prinsip non-refoulement meski Indonesia bukan penandatangan Konvensi Internasional mengenai Status Pengungsi tahun 1951. |
Memutar Arah
Tapi sehari sebelumnya, juru bicara TNI, Mayor Jenderal Fuad Basya mengakui
TNI meminta sebuah kapal pengungsi Rohingya yang berada di perairan Aceh untuk memutar arah dan tidak mendarat di wilayah Indonesia, pada Minggu (10/05/2015).
Satu kapal pengungsi lainnya mendarat di Aceh Utara dengan mengangkut 582 orang asal Myanmar dan Bangladesh.
Namun, menurut Arrmanatha, TNI tidak meminta kapal pengungsi Rohingya untuk memutar arah.
"KRI
Sutanto bertemu dengan sebuah kapal pengungsi di Selat Malaka. Kapal
itu meminta bantuan makanan, air bersih, dan bahan bakar. Setelah
semuanya diberikan, mereka berpisah sebab kapal pengungsi mengatakan
bahwa mereka tidak akan ke Indonesia. Masa kita paksa?" kata Arrmanatha.
Para pengungsi yang kini ditampung di Aceh Utara mengatakan tidak ingin kembali ke kampung halaman mereka.
|
Solusi Jangka Panjang
Salah seorang pengungsi yang kini ditampung di Aceh Utara, Muhammad
Husen, mengaku dia dan rekan-rekannya semula hendak ke Malaysia dan
tidak ingin kembali ke kampung halaman di Myanmar atau Bangladesh.
"Kita
tidak mau balik. Di sini banyak orang sayang kita. Kita dibagi makanan,
dibagi kain, dibagi sabun. Mereka bilang, ‘Jangan takut. Ini di Aceh,
Indonesia. Semua muslim. You orang jangan takut’. Tapi kita memang betul-betul tidak takut, mereka sayang kita," kata Husen.
Hingga
kini belum jelas apa yang akan dilakukan terhadap Mohamad Husen dan 581
pengungsi lain dari Bangladesh dan Rohingya asal Myanmar.
Data
badan pengungsi PBB menunjukkan terdapat hampir 12.000 pengungsi dan
pencari suaka yang ditampung di Indonesia, termasuk pengungsi etnik
Rohingya.
| Para pengungsi kini ditempatkan di sebuah bangunan bekas tempat pelelangan ikan yang tidak terpakai di Kuala Cangkoi, Aceh Utara. Sebelumnya mereka ditempatkan di Gedung Olah Raga Lhoksukon. |
Dan solusi jangka panjang kini menunggu pemerintah, seperti
diungkapkan Akmal Haris dari Organisasi Internasional untuk Migrasi
(IOM).
"Para pengungsi kini ditempatkan di bangunan bekas tempat
pelelangan ikan yang tidak pernah dipakai di Kuala Cangkoi, Aceh Utara.
Namun, solusi kami kembalikan lagi kepada pemerintah, dalam arti
penanganan lanjutnya seperti apa. IOM di sini berperan membantu
logistik, terkait pemberian makanan dan kesehatan," jelas Haris.
Selain
ribuan pengungsi yang mendarat di Aceh dan Langkawi, Malaysia awal
pekan ini, diperkirakan terdapat ribuan orang yang masih
terkatung-katung di perairan Malaka dan sekitarnya.
Militer Thailand dan Malaysia telah menyatakan menolak kehadiran mereka.
| Pengungsi Rohingya saat memasuki wilayah Indonesia |
| Petugas Medis dan Petugas Imigrasi yang Membantu Pengungsi Rohingya | di Aceh, Indonesia |
| Suasana Pengungsi Rohingya mencicipi makanan khas Indonesia |
| Suasana di Pengungsian Rohingya, Aceh - Indonesia |
| Warga etnis Rohingya makan siang bersama sebelum dipindahkan dari tempat penampungan sementara gedung GOR Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Rabu (15/3/2015). (Antara/Rony Muharrman) |
Kebutuhan Pengungsi Rohingya di Pengungsian
(Republika.co.id) PKPU Cabang Aceh menyalurkan bantuan selimut, sarung, dan hygiene kit
untuk pengungsi Rohingya - Bangladesh ke Aceh Utara, Sabtu (16/5/2015).
Bantuan didistribusikan kepada 581 orang yang sementara tinggal di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Aceh Utara. Mereka adalah pengungsi yang terdampar di pantai Aceh Utara (10/5/2015).
Kabid program PKPU Aceh Apriadi mengatakan barang selimut, hygiene kit, dan sarung adalah peralatan yang paling dibutuhkan saat ini. PKPU juga menurunkan tim medis untuk membantu pengobatan para pengungsi yang sakit. "Untuk anak-anak kita melakukan trauma healing agar mereka merasa bahagia dan melupakan segala peristiwa buruk yang pernah mereka alami," katanya.
Dia mengatakan PKPU akan terus membatu para pengungsi dengan segala kebutuhan yang diperlukan dan akan mendirikan sebuah posko dilokasi pengungsian. Selain itu PKPU akan terus berkoordinasi dengan pihak–pihak terkait.
Saat ini yang mereka butuhkan adalah Water Sanitation. Dengan jumlah pengungsi 581 orang, hanya ada 4 unit WC, dengan kondisi yang memprihatinkan. Banyak pengungsi yang menderita diare. Selain itu juga ada 6 orang yang dirujuk untuk dirawat di Rumah Sakit Cut Meutia Lhokseumawe.
Bantuan didistribusikan kepada 581 orang yang sementara tinggal di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Aceh Utara. Mereka adalah pengungsi yang terdampar di pantai Aceh Utara (10/5/2015).
Kabid program PKPU Aceh Apriadi mengatakan barang selimut, hygiene kit, dan sarung adalah peralatan yang paling dibutuhkan saat ini. PKPU juga menurunkan tim medis untuk membantu pengobatan para pengungsi yang sakit. "Untuk anak-anak kita melakukan trauma healing agar mereka merasa bahagia dan melupakan segala peristiwa buruk yang pernah mereka alami," katanya.
Dia mengatakan PKPU akan terus membatu para pengungsi dengan segala kebutuhan yang diperlukan dan akan mendirikan sebuah posko dilokasi pengungsian. Selain itu PKPU akan terus berkoordinasi dengan pihak–pihak terkait.
Saat ini yang mereka butuhkan adalah Water Sanitation. Dengan jumlah pengungsi 581 orang, hanya ada 4 unit WC, dengan kondisi yang memprihatinkan. Banyak pengungsi yang menderita diare. Selain itu juga ada 6 orang yang dirujuk untuk dirawat di Rumah Sakit Cut Meutia Lhokseumawe.
Jusuf Kalla Janji Membantu Kaum Rohingya di Aceh
(CNN Indonesia) Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) berjanji tetap memberikan bantuan
kemanusiaan kepada para imigran Rohingya yang terdampar di tiga
Kabupaten Aceh. (Reuters/Irsan Mulyadi)
"Kita bantu dalam konteks kemanusiaan. Jadi kalau mereka terdampar pasti
kita tampung, di Pulau Galang, dan pasti diberi bantuan makanan," kata
JK di Banjarmasin pada Senin (18/5).
JK juga menekankan dibutuhkan kerja sama internasional untuk mengatasi arus imigran dari Rohingya.
JK juga menekankan dibutuhkan kerja sama internasional untuk mengatasi arus imigran dari Rohingya.
Indonesia akan berperan aktif untuk membantu para imigran, namun kata
JK, tujuan para imigran bukan ke Indonesia, melainkan ke Malaysia dan
Australia dengan alasan mencari pekerjaan.
Oleh karenanya, JK lebih memilih untuk menanti hasil putusan PBB dan
pertemuan tiga Menteri Luar Negeri yakni, Thailand, Malaysia, dan
Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu besok dan diharapkan
menghasilkan rekomendasi atau pilihan lebih baik.
"Kita tunggu saja bagaimana putusannya," kata JK.
Sebelumnya, lebih dari seribu imigran gelap asal Myanmar dan Bangladesh yang terdampar di tiga kabupaten di Aceh pada pekan lalu.
Kepala Kepolisian Resor Langsa, AKBP Sunarya menyatakan hingga saat ini di daerah Langsa terdapat 676 imigran yang ditampung di Pelabuhan Kuala Langsa, Aceh, setelah ditemukan terombang-ambing di perairan Indonesia oleh nelayan setempat, 583 di Lhokseumawe, dan 47 lainnya di Tamiang.
Menurutnya, para imigran tersebut mendapat bantuan dari kantor imigrasi, Organisasi Migrasi Internasional (IOM), badan pengungsian PBB (UNHCR) serta masyarakat setempat.
Namun Sunarya juga mengatakan bahwa para imigran akan dideportasi kembali ke negara asal mereka.
"Telah ada kesepakatan antara kami, pihak imigrasi, Duta Besar Bangladesh dan atas arahan MENKOPOLHUKAM bahwa mereka akan dideportasi kembali ke negara asal," kata Sunarya ketika dihubungi CNN Indonesia, Senin (18/5).
"Kita tunggu saja bagaimana putusannya," kata JK.
Sebelumnya, lebih dari seribu imigran gelap asal Myanmar dan Bangladesh yang terdampar di tiga kabupaten di Aceh pada pekan lalu.
Kepala Kepolisian Resor Langsa, AKBP Sunarya menyatakan hingga saat ini di daerah Langsa terdapat 676 imigran yang ditampung di Pelabuhan Kuala Langsa, Aceh, setelah ditemukan terombang-ambing di perairan Indonesia oleh nelayan setempat, 583 di Lhokseumawe, dan 47 lainnya di Tamiang.
Menurutnya, para imigran tersebut mendapat bantuan dari kantor imigrasi, Organisasi Migrasi Internasional (IOM), badan pengungsian PBB (UNHCR) serta masyarakat setempat.
Namun Sunarya juga mengatakan bahwa para imigran akan dideportasi kembali ke negara asal mereka.
"Telah ada kesepakatan antara kami, pihak imigrasi, Duta Besar Bangladesh dan atas arahan MENKOPOLHUKAM bahwa mereka akan dideportasi kembali ke negara asal," kata Sunarya ketika dihubungi CNN Indonesia, Senin (18/5).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar