Rabu, 20 Mei 2015

Pengungsi Rohingya di Indonesia

Tidak ada komentar:

Sebuah kapal berisi pengungsi Bangladesh dan Myanmar mendarat di Aceh, pada Minggu (10/05). Sebuah kapal lainnya bertemu TNI di Selat Malaka pada hari yang sama.

(BBC Indonesia) Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan siap membantu para pengungsi yang terdampar di perairan Indonesia, walaupun awal pekan ini TNI meminta satu kapal migran kembali ke perairan internasional.

Dalam jumpa pers pada Rabu (13/05/2015), juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, mengatakan pemerintah mengikuti prinsip non-refoulement meski Indonesia bukan penandatangan Konvensi Internasional mengenai Status Pengungsi tahun 1951.

Prinsip non-refoulement melarang penolakan dan pengiriman pengungsi atau pencari suaka ke wilayah tempat kebebasan dan hidup mereka terancam karena alasan-alasan tertentu seperti alasan ras, agama, atau kebangsaan.

"Intinya, apabila ada refugee (pengungsi) yang masuk ke perairan Indonesia dan membutuhkan bantuan, itu akan diberikan bantuan. Seperti yang terjadi pada 582 orang pada 10 Mei lalu. Apabila besok ada hal yang sama, itu yang akan kita lakukan," kata Arrmanatha

Pemerintah mengikuti prinsip non-refoulement meski Indonesia bukan penandatangan Konvensi Internasional mengenai Status Pengungsi tahun 1951.

Memutar Arah

Tapi sehari sebelumnya, juru bicara TNI, Mayor Jenderal Fuad Basya mengakui TNI meminta sebuah kapal pengungsi Rohingya yang berada di perairan Aceh untuk memutar arah dan tidak mendarat di wilayah Indonesia, pada Minggu (10/05/2015).
Satu kapal pengungsi lainnya mendarat di Aceh Utara dengan mengangkut 582 orang asal Myanmar dan Bangladesh.
Namun, menurut Arrmanatha, TNI tidak meminta kapal pengungsi Rohingya untuk memutar arah.
"KRI Sutanto bertemu dengan sebuah kapal pengungsi di Selat Malaka. Kapal itu meminta bantuan makanan, air bersih, dan bahan bakar. Setelah semuanya diberikan, mereka berpisah sebab kapal pengungsi mengatakan bahwa mereka tidak akan ke Indonesia. Masa kita paksa?" kata Arrmanatha.

Para pengungsi yang kini ditampung di Aceh Utara mengatakan tidak ingin kembali ke kampung halaman mereka.

Solusi Jangka Panjang

Salah seorang pengungsi yang kini ditampung di Aceh Utara, Muhammad Husen, mengaku dia dan rekan-rekannya semula hendak ke Malaysia dan tidak ingin kembali ke kampung halaman di Myanmar atau Bangladesh.
"Kita tidak mau balik. Di sini banyak orang sayang kita. Kita dibagi makanan, dibagi kain, dibagi sabun. Mereka bilang, ‘Jangan takut. Ini di Aceh, Indonesia. Semua muslim. You orang jangan takut’. Tapi kita memang betul-betul tidak takut, mereka sayang kita," kata Husen.
Hingga kini belum jelas apa yang akan dilakukan terhadap Mohamad Husen dan 581 pengungsi lain dari Bangladesh dan Rohingya asal Myanmar.
Data badan pengungsi PBB menunjukkan terdapat hampir 12.000 pengungsi dan pencari suaka yang ditampung di Indonesia, termasuk pengungsi etnik Rohingya.

Para pengungsi kini ditempatkan di sebuah bangunan bekas tempat pelelangan ikan yang tidak terpakai di Kuala Cangkoi, Aceh Utara. Sebelumnya mereka ditempatkan di Gedung Olah Raga Lhoksukon.

Dan solusi jangka panjang kini menunggu pemerintah, seperti diungkapkan Akmal Haris dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
"Para pengungsi kini ditempatkan di bangunan bekas tempat pelelangan ikan yang tidak pernah dipakai di Kuala Cangkoi, Aceh Utara. Namun, solusi kami kembalikan lagi kepada pemerintah, dalam arti penanganan lanjutnya seperti apa. IOM di sini berperan membantu logistik, terkait pemberian makanan dan kesehatan," jelas Haris.
Selain ribuan pengungsi yang mendarat di Aceh dan Langkawi, Malaysia awal pekan ini, diperkirakan terdapat ribuan orang yang masih terkatung-katung di perairan Malaka dan sekitarnya.
Militer Thailand dan Malaysia telah menyatakan menolak kehadiran mereka.

Pengungsi Rohingya saat memasuki wilayah Indonesia


Petugas Medis dan Petugas Imigrasi yang Membantu Pengungsi Rohingya di Aceh, Indonesia
Suasana Pengungsi Rohingya mencicipi makanan khas Indonesia 
Suasana di Pengungsian Rohingya, Aceh - Indonesia
Warga etnis Rohingya makan siang bersama sebelum dipindahkan dari tempat penampungan sementara gedung GOR Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Rabu (15/3). (Antara/Rony Muharrman)
Warga etnis Rohingya makan siang bersama sebelum dipindahkan dari tempat penampungan sementara gedung GOR Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Rabu (15/3/2015). (Antara/Rony Muharrman) 

Kebutuhan Pengungsi Rohingya di Pengungsian

(Republika.co.id) PKPU Cabang Aceh menyalurkan bantuan selimut, sarung, dan hygiene kit untuk pengungsi Rohingya - Bangladesh ke Aceh Utara, Sabtu (16/5/2015).
Bantuan didistribusikan kepada  581 orang yang sementara tinggal di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Aceh Utara. Mereka adalah pengungsi yang terdampar di pantai Aceh Utara (10/5/2015).

Kabid program PKPU Aceh Apriadi mengatakan barang selimut, hygiene kit, dan sarung adalah peralatan yang paling dibutuhkan  saat ini. PKPU juga menurunkan tim medis untuk membantu pengobatan para pengungsi yang sakit. "Untuk anak-anak kita melakukan trauma healing agar mereka  merasa bahagia dan melupakan segala peristiwa buruk yang pernah mereka alami," katanya.

Dia mengatakan PKPU akan terus membatu para pengungsi dengan segala kebutuhan yang diperlukan dan akan mendirikan sebuah posko dilokasi pengungsian. Selain itu PKPU akan terus berkoordinasi dengan pihak–pihak terkait.

Saat ini yang mereka butuhkan adalah Water Sanitation. Dengan jumlah pengungsi 581 orang, hanya ada 4 unit WC, dengan kondisi yang memprihatinkan. Banyak pengungsi yang menderita diare. Selain itu juga ada 6 orang yang dirujuk untuk dirawat di Rumah Sakit Cut Meutia Lhokseumawe.

Jusuf Kalla Janji Membantu Kaum Rohingya di Aceh

(CNN Indonesia) Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) berjanji tetap memberikan bantuan kemanusiaan kepada para imigran Rohingya yang terdampar di tiga Kabupaten Aceh. (Reuters/Irsan Mulyadi)

"Kita bantu dalam konteks kemanusiaan. Jadi kalau mereka terdampar pasti kita tampung, di Pulau Galang, dan pasti diberi bantuan makanan," kata JK di Banjarmasin pada Senin (18/5).

JK juga menekankan dibutuhkan kerja sama internasional untuk mengatasi arus imigran dari Rohingya.

Indonesia akan berperan aktif untuk membantu para imigran, namun kata JK, tujuan para imigran bukan ke Indonesia, melainkan ke Malaysia dan Australia dengan alasan mencari pekerjaan. 

Oleh karenanya, JK lebih memilih untuk menanti hasil putusan PBB dan pertemuan tiga Menteri Luar Negeri yakni, Thailand, Malaysia, dan Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu besok dan diharapkan menghasilkan rekomendasi atau pilihan lebih baik.

"Kita tunggu saja bagaimana putusannya," kata JK.

Sebelumnya, lebih dari seribu imigran gelap asal Myanmar dan Bangladesh yang terdampar di tiga kabupaten di Aceh pada pekan lalu.

Kepala Kepolisian Resor Langsa, AKBP Sunarya menyatakan hingga saat ini di daerah Langsa terdapat 676 imigran yang ditampung di Pelabuhan Kuala Langsa, Aceh, setelah ditemukan terombang-ambing di perairan Indonesia oleh nelayan setempat, 583 di Lhokseumawe, dan 47 lainnya di Tamiang.

Menurutnya, para imigran tersebut mendapat bantuan dari kantor imigrasi, Organisasi Migrasi Internasional (IOM), badan pengungsian PBB (UNHCR) serta masyarakat setempat.

Namun Sunarya juga mengatakan bahwa para imigran akan dideportasi kembali ke negara asal mereka.

"Telah ada kesepakatan antara kami, pihak imigrasi, Duta Besar Bangladesh dan atas arahan MENKOPOLHUKAM bahwa mereka akan dideportasi kembali ke negara asal," kata Sunarya ketika dihubungi CNN Indonesia, Senin (18/5). 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top